Sebanyak 29.413 orang sekitar lereng Gunung Merapi di Kabupaten
Magelang berpotensi dievakuasi dari tempat tinggalnya jiwa
sewaktu-waktu gunung berapi aktif di perbatasan Jateng-Yogyakarta yang
statusnya naik dari Waspada ke Siaga itu meletus. "Mereka adalah yang
tinggal di 21 desa dari tiga kecamatan yang paling rawan bencana
Merapi," kata Kepala Kantor Kesbanglinmas Kabupaten Magelang, Edy
Susanto, di Magelang, Kamis (13/4).
Pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian
(BPPTK) Yogyakarta, Rabu (14/4), menaikkan status Merapi dari Waspada
menjadi Siaga Merapi karena terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik
gunung yang terakhir meletus Februari 2001 itu. Tingkatan status Merapi
adalah Aktif Normal, Waspada, Siaga dan Awas Merapi.
Perintah kepada warga terutama di daerah paling rawan bencana untuk
mengungsi menunggu perkembangan pemantauan Merapi dari BPPTK. Pihaknya
selalu berkoordinasi dengan BPPTK untuk mengetahui kondisi terbaru
tentang peningkatan aktivitas Merapi.
Tiga kecamatan di Magelang yang termasuk daerah bahaya Merapi adalah Dukun, Srumbung dan Sawangan terdiri 28 desa.
Bupati Magelang, Singgih Sanyoto, telah mengumpulkan para aparat
terutama dari desa-desa di sekitar Merapi untuk memberikan arahan
tentang perkembangan terakhir aktivitas vulkanik Merapi.
Arahan bupati, menurut Edy, diteruskan para aparat desa kepada
masyarakat supaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan
letusan Merapi dengan ciri khas mengeluarkan awan panas yang disebut
’Wedhus Gembel’ itu.
Ia menjelaskan, evakuasi warga disesuaikan dengan kondisi
kemungkinan letusan terutama arah letusan. Pihaknya juga telah
melakukan pelatihan evakuasi kepada warga dan petugas.
Masyarakat yang melakukan evakuasi, katanya, berkumpul di Tempat
Penampungan Sementara (TPS) I untuk segera pindah ke TPS II dengan
berbagai fasilitas seperti tenda darurat, dapur umum dan sarana MCK.
Dari TPS II mereka selanjutnya dievakuasi ke Tempat Penampungan Akhir
(TPA).
Jumlah TPS I 28 tempat, TPS II 20 tempat dan TPA 20 tempat. Tempat
penampungan yang telah disiapkan pemda itu antara lain gedung sekolah
dan balai desa serta gedung pemerintah dan swasta lainnya, sedangkan
TPA utama di Tanjung dan Pucung Rejo Kecamatan Muntilan. "Pergerakan
pengungsian tetap berdasarkan informasi dan koordinasi dengan BPPTK,"
ungkapnya.
Masyarakat yang hendak keluar dari TPS atau tidak ikut dalam
rombongan evakuasi yang artinya melakukan evakuasi mandiri tetap wajib
lapor kepada petugas terdekat supaya memudahkan dalam pendataan.
Berbagai alat komunikasi terutama radio, sirine dan pengeras suara
dari berbagai surau di desa-desa sekitar Merapi juga telah disiapkan
untuk memberikan tanda bahaya kepada warga. "Kentongan juga digunakan,
tetapi ada beberapa tempat yang justru dianggap tabu memukul kentongan
saat Merapi meletus karena jika dipukul malah mengundang awan panas,"
ungkapnya.
Pihaknya juga telah mendata 86 unit kendaraan umum dan dari Polres
yang siap sebagai sarana evakuasi warga setiap saat. "Sampai saat ini
masyarakat sudah paham tentang bahaya Merapi, kita juga sudah
memberikan pelatihan evakuasi," katanya.
Mereka, lanjut Edy, hingga saat ini tetap menunggu berbagai tanda alam sebelum Merapi meletus untuk melakukan evakuasi.
Peningkatan aktivitas vulkanik Merapi saat ini berbeda dengan
tahun-tahun lalu terutama belum jelasnya tanda-tanda alam seperti
lelehan lava pijar dan pergerakan binatang. "Padahal di dalam perut
Merapi data menunjukan adanya aktivitas yang membahayakan," ujarnya.
Tetapi, sambungnya, masyarakat Merapi memang tidak boleh panik
menghadapi bahaya Merapi. Mereka harus selalu mendengarkan dan
mengikuti instruksi dari pihak Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana
(Tingkat Kabupaten), Unit Operasional PB (Kecamatan) dan Satuan
Perlindungan Masyarakat (Desa).
"Petugas akan mengomunikasikan kondisi Merapi. Sampai saat ini
Merapi memang tidak memberi tanda-tanda visual secara jelas, tetapi
masyarakat harap tetap tenang meskipun meningkatkan kewaspadaan,"
tambah Edy Susanto.