Blog EntryStatus Siaga Indikasi Merapi Berpeluang MeletusApr 13, '06 3:27 PM
for everyone

Sebanyak 29.413 orang sekitar lereng Gunung Merapi di Kabupaten Magelang berpotensi dievakuasi dari tempat tinggalnya jiwa sewaktu-waktu gunung berapi aktif di perbatasan Jateng-Yogyakarta yang statusnya naik dari Waspada ke Siaga itu meletus. "Mereka adalah yang tinggal di 21 desa dari tiga kecamatan yang paling rawan bencana Merapi," kata Kepala Kantor Kesbanglinmas Kabupaten Magelang, Edy Susanto, di Magelang, Kamis (13/4).

Pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu (14/4), menaikkan status Merapi dari Waspada menjadi Siaga Merapi karena terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik gunung yang terakhir meletus Februari 2001 itu. Tingkatan status Merapi adalah Aktif Normal, Waspada, Siaga dan Awas Merapi.

Perintah kepada warga terutama di daerah paling rawan bencana untuk mengungsi menunggu perkembangan pemantauan Merapi dari BPPTK. Pihaknya selalu berkoordinasi dengan BPPTK untuk mengetahui kondisi terbaru tentang peningkatan aktivitas Merapi.

Tiga kecamatan di Magelang yang termasuk daerah bahaya Merapi adalah Dukun, Srumbung dan Sawangan terdiri 28 desa.

Bupati Magelang, Singgih Sanyoto, telah mengumpulkan para aparat terutama dari desa-desa di sekitar Merapi untuk memberikan arahan tentang perkembangan terakhir aktivitas vulkanik Merapi.

Arahan bupati, menurut Edy, diteruskan para aparat desa kepada masyarakat supaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan letusan Merapi dengan ciri khas mengeluarkan awan panas yang disebut ’Wedhus Gembel’ itu.

Ia menjelaskan, evakuasi warga disesuaikan dengan kondisi kemungkinan letusan terutama arah letusan. Pihaknya juga telah melakukan pelatihan evakuasi kepada warga dan petugas.

Masyarakat yang melakukan evakuasi, katanya, berkumpul di Tempat Penampungan Sementara (TPS) I untuk segera pindah ke TPS II dengan berbagai fasilitas seperti tenda darurat, dapur umum dan sarana MCK. Dari TPS II mereka selanjutnya dievakuasi ke Tempat Penampungan Akhir (TPA).

Jumlah TPS I 28 tempat, TPS II 20 tempat dan TPA 20 tempat. Tempat penampungan yang telah disiapkan pemda itu antara lain gedung sekolah dan balai desa serta gedung pemerintah dan swasta lainnya, sedangkan TPA utama di Tanjung dan Pucung Rejo Kecamatan Muntilan. "Pergerakan pengungsian tetap berdasarkan informasi dan koordinasi dengan BPPTK," ungkapnya.

Masyarakat yang hendak keluar dari TPS atau tidak ikut dalam rombongan evakuasi yang artinya melakukan evakuasi mandiri tetap wajib lapor kepada petugas terdekat supaya memudahkan dalam pendataan.

Berbagai alat komunikasi terutama radio, sirine dan pengeras suara dari berbagai surau di desa-desa sekitar Merapi juga telah disiapkan untuk memberikan tanda bahaya kepada warga. "Kentongan juga digunakan, tetapi ada beberapa tempat yang justru dianggap tabu memukul kentongan saat Merapi meletus karena jika dipukul malah mengundang awan panas," ungkapnya.

Pihaknya juga telah mendata 86 unit kendaraan umum dan dari Polres yang siap sebagai sarana evakuasi warga setiap saat. "Sampai saat ini masyarakat sudah paham tentang bahaya Merapi, kita juga sudah memberikan pelatihan evakuasi," katanya.

Mereka, lanjut Edy, hingga saat ini tetap menunggu berbagai tanda alam sebelum Merapi meletus untuk melakukan evakuasi.

Peningkatan aktivitas vulkanik Merapi saat ini berbeda dengan tahun-tahun lalu terutama belum jelasnya tanda-tanda alam seperti lelehan lava pijar dan pergerakan binatang. "Padahal di dalam perut Merapi data menunjukan adanya aktivitas yang membahayakan," ujarnya.

Tetapi, sambungnya, masyarakat Merapi memang tidak boleh panik menghadapi bahaya Merapi. Mereka harus selalu mendengarkan dan mengikuti instruksi dari pihak Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Tingkat Kabupaten), Unit Operasional PB (Kecamatan) dan Satuan Perlindungan Masyarakat (Desa).

"Petugas akan mengomunikasikan kondisi Merapi. Sampai saat ini Merapi memang tidak memberi tanda-tanda visual secara jelas, tetapi masyarakat harap tetap tenang meskipun meningkatkan kewaspadaan," tambah Edy Susanto.



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.